Change Of My Life - KaskusSFTH rekomendasi part 1

Kokokan ayam tetangga membangunkanku dari hibernasiku yang hanya berlangsung selama 2 jam itu, ku bungkam kepalaku dengan menggunakan bantal dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Kadang aku heran dengan tetanggaku yang memelihara ayam bahkan sampai sepuluh ekor padahal ini merupakan perumahan elit, ya hobi tetanggaku itu sebut saja “Pak Joko” memang memelihara ayam, pernah aku berfikir kenapa tidak memelihara burung saja karena suara burung mungkin lebih bagus dan tidak Cumiikan telingan di pagi hari, tapi apalah dayaku memang hobi pak DPRD di kotaku itu. Cukup tentang pak Joko, kulanjutkan tidur ku sampai akhirnya ibuku datang membangunkanku.

Quote:

Ibu : “Dek bangun sholat subuh dulu, kan ini hari pertama kamu ke sekolah kamu”

Aku : “masih ngantuk ma.. “ jawabku dengan lirih

Ibu : “ayo bangun, kalo ga bangun itu PS kamu mamah sita” kata ibuku sambil melangkah keluar kamarku


Ancaman ibuku itu cukup untuk membuatku bangun dengan malasnya karena hanya tidur dua jam karena begadang bermain PS setelah nonton bola. Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan sembahyang pagi itu, setelah selesai sholat, berdo’a dan membaca alqur’an walau hanya satu rukuk, aku melangkahkan kaki ke kamar mandi dan melakukan ritual pembersihan dan mandi, tanpa melakukan ritual lain seperti yang kalian lakukan di kamar mandi. Selasai mandi aku sudah siap dengan seragam SMP ku dan segala pernak-pernik aneh untuk acara sakral yang di sebut MOS atau lebih tepatnya acara pembodohan, karena menurutku acara ini tidak mendidik sama sekali.
Di depan kaca aku melihat diriku seperti orang bodoh yang memakai topi dari bola plastik, dan rompi dari kardus yang di gambari angka sesuai dengan nama sekolah tempatku mengenyam pendidikan selama tiga tahun ke depan dan juga terdapat fotoku sedang memeluk dan mencium pohon yang sampai sekarang masih tersimpan di dalam dompeku. Kupandangi diriku di kaca yang seperti seorang prajurit yang siap terjun ke medan perang dengan baju zirahnya. Selain itu muka ku yang terlihat lusuh layaknya orang yang kelelahan, dengan sedikit kantung mata yang terlihat karena kulitku yang memang tergolong putih untuk ukuran laki-laki.

Sedikit gambaran tentangku, aku adalah anak dari ayah yang konon memiliki darah biru dari ayahku (ayahku selalu bilang seperti itu, tetapi aku tidak tahu kebenaran tentang itu, dan ibuku hanya tersenyum soal itu) dan ibu yang memiliki darah bule. Aku merupakan anak kedua yang juga anak tunggal waktu itu, karena saudara kembarku hanya hidup di dunia selama beberapa menit saja sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk fisik aku terbilang cukup tinggi yaitu 173cm saat itu, warna kulitku putih karena ibuku juga putih dan ayahku yang tidak hitam, badanku cukup atletis, dan aku bisa di bilang ganteng ( untuk ini aku telah bertanya kepada teman-temanku baik yang laki maupun perempuan, bahkan temanku yang seorang lelaki mengatakan bahwa kalo misalkan dia perempuan dia mungkin akan suka padaku, jujur aku merasa jijik mendengarnya ), aku merupakan laki-laki yang tergolong payah soal wanita saat itu yang bahkan memandang mata seorang wanita pun aku tak sanggup, sewaktu SMP aku pernah menyukai seorang temanku tetapi apalah dayaku yang tak punya keberanian untuk mendekatinya walaupun temanku yang lain bahwqa pasti aku langsung di terima kalau menembaknnya, dari percakapan antara aku dengan ibuku di atas dapat disimpulkan bahwa aku adalah anak yang di kategorikan sebagai “anak mama” tetapi aku malah bangga disebut seperti itu entah mengapa bagiku ibuku adalah segalanya dan aku sangat bangga disebut sebagai anaknya.

Terlalu lama aku memandangi diriku di depan kaca samapai kulihat jam di kamarku menunjukan pukul enam tepat, akupun bergegas untuk turun ke bawah dan berpamitan juga tak lupa mencium tangan dan pipi ibuku, ayahku? Dia sedang ada tugas keluar negeri. Aku bergegas ke sekolah di antar Pak Yatno selaku sopir keluargaku, aku kesekolah tanpa sarapan karena aku takut terlambat karena sekolahku ini ada di luar kota walau pun tidak jauh sekali hanya mungkin 15km kalau lurus. Dan benar saja aku terlambat sampai di depan SMA N 34 (jujur saja sebernarnya SMA Negeri di kota itu ti dak sampai 10 sebenarnya tapi tidak tau juga kalau sekarang, aku tidak akan menyebutkan nama kota itu, tetapi seiring berjalanya waktu kalian pasti akan tahu jika pernah singgah di kota ini), aku turun dari mobil dan melihat seorang perempuan berparas cantik yang melihatku sambil mengeluarkan senyuman, bukan bukan senyuman melainkan seringai yang membuat perasaanku tidak enak. Ku putuskan untuk memasuki gerbang sekolah dan melewatinya dengan badan sedikit membungkuk untuk menghormatinya tetapi tanpa mengucapkan kata apapun karena aku selalu bingung untuk bicara apa kalu bertemu orang yang baru terlebih lagi seorang wanita. Baru beberapa langkah gerbang kulewati tiba-tiba ada seseorang yang memegang tanganku dan dia adalah wanita yang tadi.


Quote:

“mau kemana kamu?”

Aku : “masuk kak”

“ikut aku sekarang”



Wanita itupun menggiring ke tempat orang-orang lain yang mungkin senasib denganku, aku disuruh berdiri didepan bersama anak-anak lain yang bermasalah (dalam artian atribut tidak lengkap atau terlambat), dan kami pun menjadi bahan tontonan untuk anak-anak lainya pada apel pagi itu di bawah sinar matahari pagi yang konon menyehatkan. Entah mengapa aku merasa banyak anak perempuan yang melihatku sambil berbisik-bisik, tapi sudahlah aku tidak peduli dengan semua itu mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu kege-eran. Apel pagi itu pun selesai semua peserta MOS dikumpulkan menurut kelas, sedangkan kami selaku anak yang bermasalah disuruh untuk push-up 20 kali sebelum akhirnya bergabung dengan anggota kelompok kami masing-masing. Entah apa yang di katakan oleh kakak-kakak senior di depan aku tidak mendengarkan sama sekali karena sedang melamun, entah apa yang ku lamunkan waktu itu. Beberapa saat setelah itu barulah kita di giring menuju kelas masing masing, di kelasku ada dua orang kakak senior yang menjaga, seorang laki-laki yang bernama “Agus” dan seorang perempuan bernama “Indah”. Menurutku Agus merupakan orang yang baik dan ramah terlihat dari caranya berbicara dan bercanda, sedangkan Indah aku tidak terlalu memperhatikanya karena dia duduk di belakang kelas. Rasa kantukku yang sepertinya masih sangat kuat membuatku merem melek, candaan Agus pun tidak dapat mengusir rasa kantukku, dan akhirnya aku pun sukses ter tidur. Sampai meja tempatku meraih mimpi di gebrak oleh seseorang yang sukses menjatuhkan mimpi-mimpiku itu, ku buka mataku perlahan sambil mengumpulkan nyawaku.


Quote:

“Siapa yang nyuruh kamu tidur??!!!” katanya dengan galak

Kulihat indah sedang di depanku, ya dialah yang menggebrak meja tempatku menggapai mimpi, dan lagi-lagi semua mata tertuju padaku.

Indah : “Siapa yang yuruh kamu tidur???!!” katanya lagi

Aku hanya diam, ya itu yang selalu kulakukan kalau sedang di mari oleh seseorang.

Indah : “Ikut kakak sekarang” ujarnya sambil menarik tanganku keluar kelas

“Jangan galak-galak Ndah” Teriak Agus, saat kami sudah di lorong kelas satu


Indah menarik tanganku sampai ke sebuah tempat yang tidak asing bagiku, tempat dengan beberapa meja dan kursi panjang juga beberapa makanan di dalam tempat itu, yap tempat itu yang di sebut kantin. “Kenapa wanita ini membawaku ke kantin” tanya hati kecil ku. Indah membawaku memasuki kantin dia langsung duduk di salah satu kursi dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya yang menunjukan gestur agar aku duduk di sebelahnya dan aku pun mematuhinya.

Quote:

Indah : “Mami Es teh satu sama soto ya!!!” teriaknya

Aku? Aku hanya duduk dan memandang ke lantai, jujur itu mungkin ga banget untuk seorang laki-laki. Selang beberapa saat pesenanya datang, lalu dia melihat diriku.

Indah : “lo ga pesen apa-apa?”

Aku : “eh.. engga kak”

Indah : “kaku banget sih lo, kalo mau pesen pesen aja”

Aku : “ii iya kak”

Indah : “ga usah pake kak, panggil indah aja”


Lalu percakapan di lanjutkan, Indah menanyakan tentang dari mana SMP ku (padahal di bahuku ada nama sekolahku, mungkin cuma untuk basa-basi), dimana rumahku, dan berbagai pertanyaan lainya. Setelah selesai Indah mengantarku balik ke kelas, sebelum memasuki kelas Indah meminta nomor handphone ku setelah memberikan nomorku akupun masuk kelas sedangkan Indah malah pergi lagi bukanya masuk ke kelas. Jujur selama aku bersama Indah aku tidak memandang matanya sama sekali dan aku tau itu kurang sopan tapi memang seperti itulah diriku. Di kelas aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku, di kelas beberapa menanyakan di apakan saja aku tadi tetapi aku hanya menjawab hanya hukuman biasa karena aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menemani Indah makan di kantin (hanya menemani, karena aku tidak makan apapun), lalu Agus menerangkan barang-barang yang harus di bawa untuk MOS besok, dan kelas pun di bubarkan dan semua boleh pulang waktu itu karena masih hari pertama jadi belum ada kegiatan yang berarti.
Dan besok merupakan hari yang buruk untukku.

Komentar