Change Of My Life - KaskusSFTH rekomendasi part 2

Setelah pulang sekolah, aku pun pergi ke warung yang ada di ujung komplek bukan warung sih lebih mirip mini market tapi tanpa pintu kaca, tanpa AC, dan cenderung terbuka, bahkan lebih besar ukuranya jika di bandingkan dengan dua mini market yang selalu berdekatan. Di warung aku mencari makanan-makanan kecil yang namanya aneh karena nama asli produk di ubah ke bahasa indonesia atau bahasa jawa. Saat sedang memilih makanan-makanan itu keluarlah sang buah hati dari koh Ari yang bernama Lina, Lina itu perpaduan antara etnis jawa dengan cina (maaf bukan maksud rasis) dengan kulit kuning cerah, badan yang menurutku cukup tinggi sekitar 169cm, dan bentuk tubuh yang proporsional dengan tingginya semua tonjolan yang ada di tubuhnya menurutku sesuai pada porsinya, umurnya satu tahun di atasku, aku dan Lina telah berteman sejak kelas 3 SD, jadi kami lumayan akrab.


Quote:

Lina : “Eh Ozi..” sapanya

Aku : “Hai Lin  “

Lina : “nyari apaan lu?”

Aku : “nyari calon istri gua lah” jawabku sambil nyengir

Lina : “mana?” tanya nya sambil clingak clinguk

Aku : “Ada dah, orangnya cakep, lu kenal kok”

Lina : “Siapa? Siapa? Siapa?” tanyanya antusias

Aku : “Kamu”

Seketika muka Lina tiba-tiba merah merona, sangat terlihat karena kulitnya yang cerah itu.

Lina : “ah... ketularan iqbal lu, godain gua mulu”

Aku : “hehe”


Jujur waktu itu aku hanya berani menggoda dua orang wanita dan salah satunya adalah Lina, dan entahlah aku tidak malu untuk menggoda mereka, mungkin karena telah berteman denganku sejak aku kecil, tapi tetap saja aku tidak terbiasa untuk menatap mata mereka.


Setelah mendapatkan makanan-makanan yang ku butuhkan, ku berikan kepada koh Ari untuk di hitung total nya lalu membayar, setelah membayar aku pun berpamitan kepada Lina, dan langsung menuju rumah. Sesampainya di rumah aku melihat sebuah motor Saturnus berwarna biru terparkir di halaman depan masih baru sepertinya kalau dilihat dari tahun yang tertera pada plat nomor motor itu, “mungkin ada tamu” pikirku, kulanjutkan langkahku masuk kerumah tetapi di ruang tamu tidak ada seorang pun. Dan tiba-tiba


Quote:

“GOOOAAAALLLLL!!!!!”


Aku mengenal suara itu, bahkan sangat kenal, ya dia ibuku kulihat dia sedang bermain game sepak bola bersama sahabatku “Iqbal”, kalian jangan kaget mendengar ibuku bermain PS karena setiap Iqbal datang ke rumahku sedangkan aku tidak sedang di lokasi kejadian dia pasti mengajak orang lain untuk menemaninya bermain PS entah itu Ibuku, Pak Yatno, Bi Nani (Asisten Rumah Tangga di Rumahku dulu), atau bahkan ayahku ketika beliau sedang ada di rumah. Iqbal adalah sahabatku sejak lahir, ya sejak lahir... kami lahir pada hari yang sama dan di rumah sakit yang sama, dan sejak itu ibuku dan ibunya sangat akrab yang menyebabkan kamipun menjadi sangat akrab layaknya saudara, mungkin Iqbal adalah seseorang yang dikirimkan Tuhan untuk menggantikan saudaraku. Bahkan dia memanggil ibuku dengan sebutan “Mamah”. Kadang kalau hanya bertiga aku bahkan bingung siapa anaknya, karena kalo Iqbal dan Ibuku ngobrol udah langsung susasan pettjjjaaahhh (maaf lebay).
Sedikit penggambaran tentang Iqbal, tingginya 170cm, dengan kulit berwarna sawo matang, dia satu sekolah denganku, karena dia lah aku mengantuk dan terlambat pada hari pertama MOS ku, dia yang mengajakku untuk bermain winning eleven setelah menonton pertandingan bola malam itu, lalu dia pulang dan tidak datang saat MOS. Rumahnya hanya berbeda komplek denganku, dia tinggal bersama ibunya dan seorang pembantu, sedangkan ayahnya hanya pulang beberapa saat sekali seperti ayahku, tetapi ayahku lebih sering pulang karena hanya paling lama satu bulan dia pergi untuk pekerjaanya, sedangkan ayah Iqbal bisa satu bulan atau bahkan lebih karena pekerjaanya sebagai pilot pada maskapai internasional. Berbeda denganku yang susah untuk mendekati wanita, Iqbal bisa dibilang seorang playboy karena dia sering bergonta-ganti pasangan, pernah waktu itu di SMP yang sama denganku Iqbal di putusin oleh pacarnya tetapi sorenya dia telah menggandengan wanita lain, begitu mudahnya bagi dia untuk mendekati lawan jenis. Karenanya lah nanti sifatku berubah.


Kubiarkan Iqbal bermain dengan ibuku, aku langsung masuk ke kamar dan menaruh makanan-makanan tersebut ke dalam tas sekolahku. Ku ambil handphone ku yang ber merk nokie itu dengan maksud bermain game ular-ularan, ku rebahkan tubuhku di atas ranjang dan ku buka kunci pada handphoneku kulihat ada 3 misscall, dan 2 sms dari nomor tak di kenal


Quote:

 “hai ozi, ini gue Indah save ya”

 “kok gua telepon ga di angkat? Lagi sibuk ya?”


Langsung aku tahu bahwa miscall dan sms itu asalnya dari Indah, sempat aku berpikiran untuk menelponya dan menayakan kenapa dia menelpon ku, tapi ku urungkan niatku tersebut. Akhirnya aku sms dia untuk menanyakan ada urusan apa dia menelponku. Lima menit berselang setelah aku membalas sms nya dia menelponku kembali, kali ini aku mengangkatnya. Dalam telponya dia menceritakan hal yang menurutku tidak penting, ya karena dia membicarakan tentang anjing yang dilihatnya di pet shop, bukan membicarakan sih lebih tepatnya dia bercerita dan aku yang mendengar. Cerita tentang si anjing itu berlangsung sampai aku terlelap dalam tidurku.

Keesokan harinya aku berangkat bersama dengan Iqbal, Iqbal menjemputku dengan motor Saturnus warna biru miliknya, kita menyusuri jalanan perkampungan bukan melewati jalanan besar karena Iqbal tidak memiliki SIM, dan kami juga takut terkena tilang polisi yang sedang mencari mangsa untuk memenuhi perutnya dengan uang hasil rampasan tilang. Sampai di dekat sekolah kita parkirkan motor di sebuah warung penyedia jasa internet atau yang kerap kita sebut warnet, warnet tersebut milik ayah Iqbal jadi kita sudah kenal dengan penjanga warnet tersebut jadi motor Iqbal pun aman.

Sampai di depan sekolah Iqbal langsung berlari masuk kesekolah dengan semangatnya untuk mencari mangsa (mangsa yang di maksud adalah wanita-wanita yang akan terkena bujuk rayuanya), aku hanya menggeleng dan melanjutkan jalanku untuk memasuki gerbang sekolah. Tiba-tiba ada kakak senior yang memegang lenganku.

Quote:

“nih bocah Do yang kemaren sama Indah” ujar kakak senior itu, yang kutahu namanya Ihsan

Lalu datang seseorang yang ku yakin dia yang ihsan panggil dengan sebutan “Do”
“BUGGHHH” sebuah pukulan mengenai pipiku

Komentar