Hari Rabu tahun neolitikum, hari terakhir liburan dari jatah libur yang diberikan kepala sekolah kepada ku. Pagi hari sekitar pukul tujuh pagi ada sms masuk ke handphone baru ku, sms dari Clara.
Quote:
Clara : “OZZIIIIIII!!!”
Aku : “hadir”
Clara : “Aku Sakit!!!”
Aku : “berobat lah”
Clara : “udah”
Aku : “ya udah, minum obat”
Clara : “udah juga”
Aku : “yaudah”
Clara : “gitu doank?”
Aku : “trus gimana?”
Clara : “apa kek, jengukin gitu? Bawain es krim atau apa kek gitu?”
Aku : “baru sakit juga minta es krim”
Clara : “yaudah sini”
Aku : “ngapain?”
Clara : “nemenin gue”
Aku : “kan udah di temenin bi Ijah”
Clara : “bi Ijah tadi di culik Alien”
Aku : “Alien palelo”
Clara : “yaudah pokoknya sini”
Aku : “iya iya bawel”
Aku pun langsung mandi untuk membersihkan diri dari segala kuman dan segala marabahaya yang membahayakan kesehatanku, setelah mandi aku bergegas untuk memakai pakaian berbekal celana dalam, kaos abu-abu polos, dan celana jeans pendek. Aku turun ke ruang keluarga untuk meminta izin kedua orang tuaku, ku lihat mereka sedang asik main PS berdua.
Quote:
Aku : “Pah Mah aku ke rumah temen ya”
Ayah : “temen kamu ga sekolah?”
Aku : “sakit pah mau jengukin”
Ibu : “kalo Iqbal sakit pasti mamah tau”
Aku : “kan temen aku bukan Iqbal aja mah”
Ibu : “tumben biasanya temen kamu sakit, kamu diemin aja. Paling Cuma Iqbal aja yang di jenguk, sama pernah sekali itu temen SMP kamu yang namanya Kirana”
Ayah : “temen kamu yang mana?”
Aku : “Clara pah, yang kemaren”
Ayah : “oh yang kemaren, udah pacaran ya? Cakep loh mah”
Ibu : “ke rumah pacar kamu Cuma pake baju kaya gitu?”
Aku : “bukan pacar aku mah, lagian kenapa kalo pake kaya gini”
Ibu : “sini ikut mamah”
Aku pun ditarik oleh ibuku untuk kembali masuk ke dalam kamarku, ibuku langsung membuka kamarku dan memilih beragam baju dari dalam lemariku tersebut. Setelah setengah jam ibuku berkutat dengan stock baju yang ada di lemariku akhirnya pilihanya jatuh pada sebuah kemeja batik berwarna cokelat, dan celana jeans hitam, lalu rambutku di beri gel rambut dan di buat sedemikian rupa, juga tak lupa menyemprotkan perfume aroma buble gum yang entah ibuku dapat dari mana. Aku pun berangkat ke rumah clara menggunakan mobil ibuku, saat perjalanan aku mampir di sebuah warung yang menjual buah-buah, aku pun membeli mangga satu kilo karena susah menemukan penjual parcel buah pada jam pagi seperti ini, terlebih harga satu parsel buah sangat mahal isian buah yang hanya seperti itu, kita bisa dapat lebih banyak ragam buah dengan uang yang setara dengan satu parsel tersebut. Aku membeli satu kilogram buah mangga dan setengah kilogram jambu biji, juga membeli pisang untuk kumakan.
Pukul sembilan pagi aku telah sampai di kediaman sang Ratu (sudah lama aku tidak menggunakan sebutan tersebut), ku bunyikan bel rumahnya, tak lama kemudian Bi Ijah sudah ada di gerbang untuk membukakan gerbang untukku. Saat keluar dari mobil Bi Ijah menanyakan kenapa aku memakai baju batik dan rambut yang terbilang rapi nan klimis, dan kujawab hanya tinggal baju itu saja yang tersisa di lemari dan soal rambut ku jawab saja kalau aku habis kramas. Bi Ijah langsung mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua, di pintu kamar terdapat gantungan-gantungan bantal kecil berbentuk hati dengan huruf di tengah nya yang di susun membentuk tulisan C L A R A. Ku ketuk pintu kamar tersebut lalu di sambut teriakan dari Clara.
Quote:
Clara : “nanti aja bi makanya, nungguin ozi daateng”
Aku : “maaf, saya depkolektor mbak”
Tak lama kemudia pintu terbuka
Clara : “mana ada depkolektor ngaku”
Aku : “saya depkolektor yang taat mbak”
Clara : “ada-ada aja”
Aku : “katanya sakit, kok ga keliatan”
Clara : “iya pusing aja sih, gegara begadang nonton film tadi malem”
Clara : “bawa apaan noh?” tanyanya sambil melihat tas kresek hitam yang kubawa
Aku : “mangga sama jambu”
Clara : “ya elah, jengukin orang sakit bawanya mangga ama jambu, biasanya kan apel”
Aku : “stock nya kosong”
Clara : “di kresekin lagi, ga di hias gitu”
Aku : “ini jengukin orang sakit, bukan ke acara ultah ngapain pake di hias”
Aku : “udah mending bawain buah, banyakan protes lo”
Clara : “yaudah kupasin”
Aku : “manja bener, Cuma pusing gitu”
Clara : “Cuma pusing tetep aja namanya sakit”
Aku : “makan dulu sono, kata bibi belom makan elo nya, ntar sakit perut”
Clara : “yaudah tungguin”
Clara pun pergi ke bawah untuk makan, dengan polos nya aku masuk ke kamarnya (aku tidak tahu kalau masuk ke kamar seorang wanita itu tidak sopan). Kamar yang rapi menurutku dengan warna pink yang mendominasi setiap sudutnya, berbagai boneka berwarna pink dengan berbagai ukuran pada kasur pink miliknya. Juga terdapat foto-fotonya dengan keluarganya, serta sebuah foto dengan bingkai kecil seorang wanita yang aku yakini itu adalah ibunya. Tak lama kemudian Clara datang dengan membawa sebuah piring berisi nasi dengan lauk pauk yang terbilang sangat banyak untuk ukuran wanita muda yang biasanya menjaga berat badanya.
Quote:
Clara : “idih main masuk kamar orang aja”
Aku : “ga boleh ya?”
Clara : “ga sopan tau”
Aku : “yaudah keluar aja”
Clara : “udah di sini aja, udah terlanjur juga”
Clara : “nih” katanya sambil memberikan piring tersebut padaku
Aku : “apaan? Gue udah makan”
Clara : “bukan buat lo”
Aku : “lah trus ngapain kasih ke gue?”
Clara : “suapin”
Aku : “idih manja banget, ogah dah”
Clara : “suapin!” katanya dengan nada sedikit agak keras, dan melotot padaku
Aku : “iya nyonya, matanya biasa aja”
Quote:
Clara : “OZZIIIIIII!!!”
Aku : “hadir”
Clara : “Aku Sakit!!!”
Aku : “berobat lah”
Clara : “udah”
Aku : “ya udah, minum obat”
Clara : “udah juga”
Aku : “yaudah”
Clara : “gitu doank?”
Aku : “trus gimana?”
Clara : “apa kek, jengukin gitu? Bawain es krim atau apa kek gitu?”
Aku : “baru sakit juga minta es krim”
Clara : “yaudah sini”
Aku : “ngapain?”
Clara : “nemenin gue”
Aku : “kan udah di temenin bi Ijah”
Clara : “bi Ijah tadi di culik Alien”
Aku : “Alien palelo”
Clara : “yaudah pokoknya sini”
Aku : “iya iya bawel”
Aku pun langsung mandi untuk membersihkan diri dari segala kuman dan segala marabahaya yang membahayakan kesehatanku, setelah mandi aku bergegas untuk memakai pakaian berbekal celana dalam, kaos abu-abu polos, dan celana jeans pendek. Aku turun ke ruang keluarga untuk meminta izin kedua orang tuaku, ku lihat mereka sedang asik main PS berdua.
Quote:
Aku : “Pah Mah aku ke rumah temen ya”
Ayah : “temen kamu ga sekolah?”
Aku : “sakit pah mau jengukin”
Ibu : “kalo Iqbal sakit pasti mamah tau”
Aku : “kan temen aku bukan Iqbal aja mah”
Ibu : “tumben biasanya temen kamu sakit, kamu diemin aja. Paling Cuma Iqbal aja yang di jenguk, sama pernah sekali itu temen SMP kamu yang namanya Kirana”
Ayah : “temen kamu yang mana?”
Aku : “Clara pah, yang kemaren”
Ayah : “oh yang kemaren, udah pacaran ya? Cakep loh mah”
Ibu : “ke rumah pacar kamu Cuma pake baju kaya gitu?”
Aku : “bukan pacar aku mah, lagian kenapa kalo pake kaya gini”
Ibu : “sini ikut mamah”
Aku pun ditarik oleh ibuku untuk kembali masuk ke dalam kamarku, ibuku langsung membuka kamarku dan memilih beragam baju dari dalam lemariku tersebut. Setelah setengah jam ibuku berkutat dengan stock baju yang ada di lemariku akhirnya pilihanya jatuh pada sebuah kemeja batik berwarna cokelat, dan celana jeans hitam, lalu rambutku di beri gel rambut dan di buat sedemikian rupa, juga tak lupa menyemprotkan perfume aroma buble gum yang entah ibuku dapat dari mana. Aku pun berangkat ke rumah clara menggunakan mobil ibuku, saat perjalanan aku mampir di sebuah warung yang menjual buah-buah, aku pun membeli mangga satu kilo karena susah menemukan penjual parcel buah pada jam pagi seperti ini, terlebih harga satu parsel buah sangat mahal isian buah yang hanya seperti itu, kita bisa dapat lebih banyak ragam buah dengan uang yang setara dengan satu parsel tersebut. Aku membeli satu kilogram buah mangga dan setengah kilogram jambu biji, juga membeli pisang untuk kumakan.
Pukul sembilan pagi aku telah sampai di kediaman sang Ratu (sudah lama aku tidak menggunakan sebutan tersebut), ku bunyikan bel rumahnya, tak lama kemudian Bi Ijah sudah ada di gerbang untuk membukakan gerbang untukku. Saat keluar dari mobil Bi Ijah menanyakan kenapa aku memakai baju batik dan rambut yang terbilang rapi nan klimis, dan kujawab hanya tinggal baju itu saja yang tersisa di lemari dan soal rambut ku jawab saja kalau aku habis kramas. Bi Ijah langsung mengantarku ke sebuah kamar di lantai dua, di pintu kamar terdapat gantungan-gantungan bantal kecil berbentuk hati dengan huruf di tengah nya yang di susun membentuk tulisan C L A R A. Ku ketuk pintu kamar tersebut lalu di sambut teriakan dari Clara.
Quote:
Clara : “nanti aja bi makanya, nungguin ozi daateng”
Aku : “maaf, saya depkolektor mbak”
Tak lama kemudia pintu terbuka
Clara : “mana ada depkolektor ngaku”
Aku : “saya depkolektor yang taat mbak”
Clara : “ada-ada aja”
Aku : “katanya sakit, kok ga keliatan”
Clara : “iya pusing aja sih, gegara begadang nonton film tadi malem”
Clara : “bawa apaan noh?” tanyanya sambil melihat tas kresek hitam yang kubawa
Aku : “mangga sama jambu”
Clara : “ya elah, jengukin orang sakit bawanya mangga ama jambu, biasanya kan apel”
Aku : “stock nya kosong”
Clara : “di kresekin lagi, ga di hias gitu”
Aku : “ini jengukin orang sakit, bukan ke acara ultah ngapain pake di hias”
Aku : “udah mending bawain buah, banyakan protes lo”
Clara : “yaudah kupasin”
Aku : “manja bener, Cuma pusing gitu”
Clara : “Cuma pusing tetep aja namanya sakit”
Aku : “makan dulu sono, kata bibi belom makan elo nya, ntar sakit perut”
Clara : “yaudah tungguin”
Clara pun pergi ke bawah untuk makan, dengan polos nya aku masuk ke kamarnya (aku tidak tahu kalau masuk ke kamar seorang wanita itu tidak sopan). Kamar yang rapi menurutku dengan warna pink yang mendominasi setiap sudutnya, berbagai boneka berwarna pink dengan berbagai ukuran pada kasur pink miliknya. Juga terdapat foto-fotonya dengan keluarganya, serta sebuah foto dengan bingkai kecil seorang wanita yang aku yakini itu adalah ibunya. Tak lama kemudian Clara datang dengan membawa sebuah piring berisi nasi dengan lauk pauk yang terbilang sangat banyak untuk ukuran wanita muda yang biasanya menjaga berat badanya.
Quote:
Clara : “idih main masuk kamar orang aja”
Aku : “ga boleh ya?”
Clara : “ga sopan tau”
Aku : “yaudah keluar aja”
Clara : “udah di sini aja, udah terlanjur juga”
Clara : “nih” katanya sambil memberikan piring tersebut padaku
Aku : “apaan? Gue udah makan”
Clara : “bukan buat lo”
Aku : “lah trus ngapain kasih ke gue?”
Clara : “suapin”
Aku : “idih manja banget, ogah dah”
Clara : “suapin!” katanya dengan nada sedikit agak keras, dan melotot padaku
Aku : “iya nyonya, matanya biasa aja”
Komentar
Posting Komentar