Change Of My Life - KaskusSFTH rekomendasi part 21

Kita di berikan waktu dua minggu untuk mengadakan kampanye di sekolah, kampanye yang dilakukan tidak seperti kampanye yang di lakukan oleh para wakil rakyat sekarang yang sampai menghabiskan uang puluhan juta bahkan milyaran rupiah untuk berkampanye lalu saat sudah terpilih akan menghabiskan uang rakyat untuk balik modal dan mengambil keuntungan, ah maaf bukan maksud ku untuk menyindir para wakil rakyat karena tidak semua seperti itu, walau sayang nya kebanyakan yang aku lihat seperti itu, bahkan aku juga mengenal orang yang seperti itu. Kampanye yang dilakukan juga tidak kami lakukan dengan mengibarkan bendera partai di jalan, sambil membawa banyak massa untuk naik motor dengan suara nya yang Cumiikkan telinga juga tanpa helm dan merugikan orang lain, kadang aku heran mereka mau melakukan hal seperti itu hanya karena uang lima puluh ribu, bahkan ada yang membawa senjata tumpul, sebenarnya mereka akan kampanye atau tawuran. Kampanye yang kami laku kan, ah maaf maksud ku kampanye Iqbal lakukan ya, aku tidak tau dia kampanye atau tidak, yang jelas aku tidak karena aku memang tidak berniat mengikuti pemilu ini.


Terdapat sekiranya tiga calon kandidat, Iqbal dan aku (+Clara) ada di nomor urut satu, A + B di nomor urut dua, C dan D di nomor urut tiga. Berbeda dengan pasangan nomor urut satu yang berisi Iqbal dan Aku, pasangan kandidat yang lain sepertinya lebih berkompeten dan memiliki pengalaman di bidang organisasi seperti ini, aku hanya berbekal bujukan dari Iqbal dan Iqbal berbekal maksud terselubung nya.


Hari minggu Aku bangun pagi lalu langsung menuju ke rumah Clara, sampai di sana seperti biasa Clara belum siap, bahkan masih tidur, jadi aku yang membangunkanya dengan melemparkan bantal di sofa yang ada di kamarnya itu, kalau orang bilang wanita akan tampak cantik kala dia tidur atau bangun tidur, maka dengan sangat percaya diri aku membantah pernyataan tersebut, Clara tidur dengan mulut menganga dan air liur yang membanjiri bantal nya saat itu.


Quote:

Aku : “eh kampret bangun lo”

Clara : “nyam nyam..” sambil menggaruk kepalanya

Aku : “gue tinggal deh”

Clara : “emm.. iya iya”



Dia pun melangkahkan kakinya menuju lemari baju yang ada di sebelah kasur nya, dia mengambil armor yang dia perlukan lalu menaruhnya di kasur, lalu mengambil handuk dan mengalungkanya di leher lalu pergi keluar untuk menuju kamar mandi yang ada di sebelah kamarnya. Aku pun membaca kumpulan novel yang ada di lemari novel nya, kenapa disebut lemari novel? Karena isinya novel semua, di sebelahnya ada kotak komik yang isinya komik semua. Entah novel apa yang kubaca waktu itu yang jelas ada kata ‘bintang’ kalau ga sialah di judulnya. Tiga puluh menit berselang Clara berteriak memanggilku.


Quote:

Clara : “OZZZIIII!!!” teriaknya

Aku : “APAAA???” tak kalah kencang

Clara : “SINIIII”

Aku : “NGAPAINN????”

Clara : “UDAH SINI AJA”

Aku : “MALESSS”

Clara : “BURUAAANNN!!!” perintahnya

Aku : “IYA IYA” kataku

Aku pun sampai di depan kamar mandi

Aku : “gue udah di depan”

Pintu kamar mandi pun terbuka sedikit dan memunculkan kepala sosok Clara

Clara : “nganu”

Aku : “Apaan nganu?”

Clara : “Itu..”

Aku : “apaan itu?? Ga jelas lo”

Clara : “ah itu.. ambilin baju ganti gue”

Aku : “iya bentar”

Aku pun kembali masuk ke kamarnya, ku ambil tumpukan armor di kasurnya, aku buka buka, isi armor tersebut adalah, kaos putih bergambar menara eiffel, kutang putih yang aku tidak tahu merk nya, celana dalam putih yang bentuknya berbeda dengan celana dalam laki laki karena ada pita merah di depanya, dan celana jeans (pengalaman tak terlupakan)

Aku : “oi”

Clara pun membuka kembali celah pintu kamar mandi

Clara : “mana”

Aku : “nih, pitanya bagus”

Clara : “eh kampret lu liatin daleman gue”

Aku : “penasaran”

Clara : “terserah lu dah”



Dengan cepat Clara mengambil beju ganti yang aku berikan, aku pun kembali ke kamarnya. Karena bosan menunggunya akhirnya aku ke halaman depan rumah Clara untuk bermain ayunan, setelah sekitar setengah jam akhirnya dia keluar Rumah dengan mengenakan pakaian tadi di tambah dengan cardigan hitam, setengah jam hanya untuk memakai cardiag? Oh god please, are you kidding me? Kita pun menuju di rumah Iqbal, sampai di sana dia masih sibuk bermain PS.


Kami pun menyusun teks untuk orasi besok, lebih tepatnya Clara dan Iqbal yang membuat karena aku hanya bermain PS, dan secara bergantian Iqbal dan Clara menemaniku bermain PS. Aku tidak terlalu ambil pusing soal Orasi tersebut karena hanya calon ketua OSIS saja yang melakukan orasi setelah apel pagi. Langit siang dan malam pun bertemu dan memadu kasih menghasilkan siluet warna oranye yang indah dengan nama senja di ujung sana. Lalu aku pun mengantarkan Clara kembali ke rumahnya.


Keesokan harinya aku sudah siap dengan kekalahan yang mungkin akan kami terima, karena jujur kami hanya mengandalkan tampang kami sebagai modal untuk menduduki kursi nomor satu di antara para siswa sekolah ku. Setelah lengkap dengan armor yang memiliki efek terhadap tubuhku (Kaos dalam – Wibawa +1,2%, Baju – Kebijaksanaan +4%, Celana Dalam – Kejantanan +3%, Celana – Kekuatan + 2%, dan Das – Ketampanan Maksimal). Aku pun sampai di sekolah, waktu hampir menunjukkan pukul tujuh pagi, lima menit lagi upacara akan dilakukan, dan orasi akan dilakukan setelah upacara di mimbar di lapangan upacara. Upacara pun di mulai Iqbal masih belum menunjukkan batang hidungnya, di tengah kepanikan ku, sebuah telpon masuk ke dalam handphoneku, aku pun ke toilet untuk menerimanya.


Quote:

Aku : “Halo”

Iqbal : “Halo”

Aku : “eh anjing kemana lu?”

Iqbal : “sori bro, gue ga bisa dateng, perut gue sakit semalem makan sambel banyakan”

Aku : “banyak alesan lu”

Iqbal : “sori bro, lo gantiin gue ya”

Aku : “eh anj-“

‘tut tut tut’ telepon dimatikan oleh Iqbal



‘sialan’ ucapku dalam hati. Aku benar benar bingung, karena aku bingung mau orasi apa, aku telpon Clara untuk meminta pada panitia untuk memundurkan jadwal orasi dari yang pertama menjadi yang terakhir. Tak terasa ada sudah sampai ke orasi orang kedua dan aku masih panik, aku memandang diriku di kaca.


“Ok gue bisa, ga ada yang perlu di takutin, seperti kata papah, tuhan sayang gue, jadi gue ga perlu takut” kataku untuk menenangkan diriku sendiri.

Komentar