Setelah kejadian aku yang di kerjai oleh Clara, aku diamkan handphone ku dan tidak membalas sms atau pun telepon darinya, aku benar-benar kesal di buatnya. Dan hari itu hanya kulanjutkan dengan menonton film di laptopku.
Keesokan harinya aku datang terlalu pagi di sekolah, pukul enam aku telah sampai di sana bahkan gerbang pun hanya di buka seukuran badan seseorang saja. Ku langkahkan kaki menembus udara dingin yang tak begitu dingin di dalam sekolah yang masih sepi. Sampai di kelas ku lihat seseorang duduk di sebelah tempat duduk ku sedang tertidur dengan tangan yang di silangkan dan membenamkan kepala di antaranya, Clara? Aku langsung duduk dan Ku buka bekal makanan ku yang menggemaskan dan bermaksud untuk sarapan pagi itu dengan nasi goreng kesukaan ku, aroma dari nasi yang di massak dengan bumbu khusus hingga berwarna coklat keemasan dengan topping ayam telur dan keju di atas nya, ku masukkan nasi goreng itu perlahan ke dalam mulutku, that’s very tasty! I love fried rice! I love my mom.
Quote:
Clara : “bagi donk zi, kayaknya enak”
Aku : “...” aku tidak menjawabnya karena memang tidak boleh berbicara saat makan, jadi aku hanya melihatnya yang sedang menghadap ke arahku dengan kepala masih terbaring di meja, tentu saja aku tidak melihat ke matanya melainkan ke bibirnya, entah kenapa aku menyukai bibir tipis berwarna cerah yang terlihat basah itu.
Clara : “idih Cuma liatin doank, bagi kali nasgor nya”
Aku : “...” masih mengunyah
Clara : “ih nyebelin banget sih” sambil mencubit pinggangku
“bluuurrrpphh” aku menyemburkan makananku sedikit karena kaget dengan serangan mendadak itu, dan sukses membuat beberapa butir nasi goreng itu mengenai wajah Clara, ah... nasi gorengku yang berharga
Clara : “ih jorokk!!!” katanya lalu pergi keluar kelas entah kemana tujuan nya melangkah
Tak lama kemudian dia kembali dengan rambut agak basah
Aku : “jadi minta?”
Clara : “Ga!”
Aku hanya mengangguk lalu kembali menghabiskan makananku, setelah makananku habis Clara mulai bertanya padaku
Clara : “lo berantem ya sama Aldo”
Aku : “ga, ngapain sih nanya terus”
Clara : “boong, kemarin Aldo pulang mukanya ada lebamnya, ga boleh nanya?”
Aku : “jatoh dari pohon kali tuh anak, lagian liat nih muka gue, ga ada bekas berantem”
Clara : “dia kalo berantem lapor bokapnya loh, bokapnya polisi”
Aku : “lo ga tau bokap gue”
Clara : “siapa bokap lo emang?”
Aku : “Suami nyokap gue “
Clara : “Ih.. serius juga” jawabnya sambil mencubit pinggangku sambil memelintirnya
Aku : “i...iya iya ampun ini lepasin” jawabku sambil menahan sakit
Clara : “Ga”
Bel tanda di mulai nya jam pelajaran pertama telah berbunyi yang menandakan di mulai nya pelajaran, tetapi setelah lima belas menit tidak ada guru yang kunjung datang mungkin karena masih minggu-minggu awal sekolah jadi guru masih malas untuk mengajar setelah liburan walau aku tidak tahu apakah guru juga libur selain pada tanggal merah. Selang beberapa waktu sekita jam delapan kurang ada sebuah panggilan
Quote:
“Mohon perhatian kepada ananda Fauzi Adriansyah Saputra kelas 1-B untuk segera menuju ke Ruang Kepala Sekolah”
“Sekali lagi kepada ananda Fauzi Adriansyah Saputra kelas 1-B harap segera ke Ruang Kepala Sekolah sekarang juga”
Setelah mendengar panggilan tersebut, aku langsung menuju ke Ruang Kepala Sekolah. Di dalam ruang tersebut ku lihat sudah ada pak Kepala Sekolah, Aldo, Seorang Polisi, dan Ayahku. Ah.. dia benar benar lapor ke ayahnya, walaupun aku juga lapor ke ayahku juga
Quote:
Aku : “Permisi”
Ayah : “Sini ozi, duduk samping papah”
Aku : “Iya pah”
Setelah aku duduk seorang polisi itu memulai pembicaraan, sebut saja Pak Pol
Pak Pol : “Jadi kenapa kamu pukulin anak saya?”
Aku : “tanya saja anak bapak”
Pak Pol : “saya nanya ke kamu”
Aku : “saya ngasih saran ke bapak”
Pak Pol : “hei kau bapaknya, ga pernah didik dia ya” tunjuk polisi itu ke ayahku, dan ayahku tersenyum ke arahnya
Ayah : “kalo ga pernah bapak mau apa?”
Pak Pol : “kurang ajar, kalian tidak tahu siapa saya?”
Ayah : “siapa zi?” tanya ayah kepadaku
Aku : “polisi pah, kan ada seragamnya”
Ayah : “anda polisi?”
Pak Pol : “kurang ajar kalian, kalian main-main dengan saya, saya punya jabatan di kepolisian”
Ayah : “Saya punya jabatan di perusahaan, di kira saya takut sama bapak, gini-gini saya jagoan waktu muda”
Ayah : “bapak mau main kekerasan? Jalur hukum? Atau jalur kekeluargaan? Walau pun saya tidak mau punya keluarga macam anda haha”
Pak Pol : “apa maksud anda?”
Ayah : “saya tidak ingin keluarga saya membanggakan jabatan mereka, dan saya tidak mengajarkan anak saya untuk melaporkan kekalahan”
Ayah : “Laki-laki itu punya harga diri, mereka harus pulang membawa kemenangan, bukan kekalahan”
Pak Kepsek : “sudah sudah”
Ayah : “Ozi ceritain gimana kejadianya”
Dan aku pun menceritakan kejadian saat aku di pukuli saat hari kedua menginjakan kaki di sekolah ini, dan Aldo yang ‘mengaku-ngaku’ sebagai pacar Indah, dan tentang aku yang di kompori oleh Iqbal untuk balas dendam, dan kemarin saat aku memukuli Aldo.
Ayah : “hahahahah”
Ayah : “anak anda mengaku-ngaku jadi pacar seorang perempuan hahaha”
Pak Pol : “...”
Aku : “pah udah pah malu, ga keren, stay cool lah”
Ayah : “oh iya maap”
Pak Pol : “bener itu Aldo”
Aldo : “iya yah” jawabnya sambil menunduk
Pak Pol : “kamu bikin ayah malu saja” ujarnya lalu pergi meninggalkan ruangan
Aldo : “...”
Ayah : “lah itu polisi ga sopan gitu ya, main pergi aja”
Aku : “kalo berantem tadi emang berani pah, badanya gede loh”
Ayah : “ya engga lah, kan tadi ayah bilang laki-laki harus punya harga diri, sombong dikit gapalah” (jangan ditiru ya, sombong itu tidak baik)
Ayah : “yaudah, masalah udah selesai kan, Pak Kamdi saya mau undur diri dulu, mau nganterin istri saya belanja”
Pak Kepsek : “oh iya pak silahkan”
Ayah : “kamu kalo berantem sama Iqbal aja jangan sama yang laen” ucap ayah kepadaku
Aku : “iya pah”
Ayah : “Itu yang di pintu yang namanya Indah?” tanya ayah, dan aku langsung menengok ke arah pintu
Aku : “bukan yah itu Clara”
Ayah : “Selera kamu bagus, yaudah papah pulang dulu” lalu pergi meninggalkan ruangan
Aku : “Iya pah ati-ati”
Ku lihat Aldo yang masih menunduk ke arah lantai
Aku : “hahahaha” tawaku dengan suara yang kubuat seperti tawa orang jahat di film-film, lalu pergi meninggalkan ruangan
Keesokan harinya aku datang terlalu pagi di sekolah, pukul enam aku telah sampai di sana bahkan gerbang pun hanya di buka seukuran badan seseorang saja. Ku langkahkan kaki menembus udara dingin yang tak begitu dingin di dalam sekolah yang masih sepi. Sampai di kelas ku lihat seseorang duduk di sebelah tempat duduk ku sedang tertidur dengan tangan yang di silangkan dan membenamkan kepala di antaranya, Clara? Aku langsung duduk dan Ku buka bekal makanan ku yang menggemaskan dan bermaksud untuk sarapan pagi itu dengan nasi goreng kesukaan ku, aroma dari nasi yang di massak dengan bumbu khusus hingga berwarna coklat keemasan dengan topping ayam telur dan keju di atas nya, ku masukkan nasi goreng itu perlahan ke dalam mulutku, that’s very tasty! I love fried rice! I love my mom.
Quote:
Clara : “bagi donk zi, kayaknya enak”
Aku : “...” aku tidak menjawabnya karena memang tidak boleh berbicara saat makan, jadi aku hanya melihatnya yang sedang menghadap ke arahku dengan kepala masih terbaring di meja, tentu saja aku tidak melihat ke matanya melainkan ke bibirnya, entah kenapa aku menyukai bibir tipis berwarna cerah yang terlihat basah itu.
Clara : “idih Cuma liatin doank, bagi kali nasgor nya”
Aku : “...” masih mengunyah
Clara : “ih nyebelin banget sih” sambil mencubit pinggangku
“bluuurrrpphh” aku menyemburkan makananku sedikit karena kaget dengan serangan mendadak itu, dan sukses membuat beberapa butir nasi goreng itu mengenai wajah Clara, ah... nasi gorengku yang berharga
Clara : “ih jorokk!!!” katanya lalu pergi keluar kelas entah kemana tujuan nya melangkah
Tak lama kemudian dia kembali dengan rambut agak basah
Aku : “jadi minta?”
Clara : “Ga!”
Aku hanya mengangguk lalu kembali menghabiskan makananku, setelah makananku habis Clara mulai bertanya padaku
Clara : “lo berantem ya sama Aldo”
Aku : “ga, ngapain sih nanya terus”
Clara : “boong, kemarin Aldo pulang mukanya ada lebamnya, ga boleh nanya?”
Aku : “jatoh dari pohon kali tuh anak, lagian liat nih muka gue, ga ada bekas berantem”
Clara : “dia kalo berantem lapor bokapnya loh, bokapnya polisi”
Aku : “lo ga tau bokap gue”
Clara : “siapa bokap lo emang?”
Aku : “Suami nyokap gue “
Clara : “Ih.. serius juga” jawabnya sambil mencubit pinggangku sambil memelintirnya
Aku : “i...iya iya ampun ini lepasin” jawabku sambil menahan sakit
Clara : “Ga”
Bel tanda di mulai nya jam pelajaran pertama telah berbunyi yang menandakan di mulai nya pelajaran, tetapi setelah lima belas menit tidak ada guru yang kunjung datang mungkin karena masih minggu-minggu awal sekolah jadi guru masih malas untuk mengajar setelah liburan walau aku tidak tahu apakah guru juga libur selain pada tanggal merah. Selang beberapa waktu sekita jam delapan kurang ada sebuah panggilan
Quote:
“Mohon perhatian kepada ananda Fauzi Adriansyah Saputra kelas 1-B untuk segera menuju ke Ruang Kepala Sekolah”
“Sekali lagi kepada ananda Fauzi Adriansyah Saputra kelas 1-B harap segera ke Ruang Kepala Sekolah sekarang juga”
Setelah mendengar panggilan tersebut, aku langsung menuju ke Ruang Kepala Sekolah. Di dalam ruang tersebut ku lihat sudah ada pak Kepala Sekolah, Aldo, Seorang Polisi, dan Ayahku. Ah.. dia benar benar lapor ke ayahnya, walaupun aku juga lapor ke ayahku juga
Quote:
Aku : “Permisi”
Ayah : “Sini ozi, duduk samping papah”
Aku : “Iya pah”
Setelah aku duduk seorang polisi itu memulai pembicaraan, sebut saja Pak Pol
Pak Pol : “Jadi kenapa kamu pukulin anak saya?”
Aku : “tanya saja anak bapak”
Pak Pol : “saya nanya ke kamu”
Aku : “saya ngasih saran ke bapak”
Pak Pol : “hei kau bapaknya, ga pernah didik dia ya” tunjuk polisi itu ke ayahku, dan ayahku tersenyum ke arahnya
Ayah : “kalo ga pernah bapak mau apa?”
Pak Pol : “kurang ajar, kalian tidak tahu siapa saya?”
Ayah : “siapa zi?” tanya ayah kepadaku
Aku : “polisi pah, kan ada seragamnya”
Ayah : “anda polisi?”
Pak Pol : “kurang ajar kalian, kalian main-main dengan saya, saya punya jabatan di kepolisian”
Ayah : “Saya punya jabatan di perusahaan, di kira saya takut sama bapak, gini-gini saya jagoan waktu muda”
Ayah : “bapak mau main kekerasan? Jalur hukum? Atau jalur kekeluargaan? Walau pun saya tidak mau punya keluarga macam anda haha”
Pak Pol : “apa maksud anda?”
Ayah : “saya tidak ingin keluarga saya membanggakan jabatan mereka, dan saya tidak mengajarkan anak saya untuk melaporkan kekalahan”
Ayah : “Laki-laki itu punya harga diri, mereka harus pulang membawa kemenangan, bukan kekalahan”
Pak Kepsek : “sudah sudah”
Ayah : “Ozi ceritain gimana kejadianya”
Dan aku pun menceritakan kejadian saat aku di pukuli saat hari kedua menginjakan kaki di sekolah ini, dan Aldo yang ‘mengaku-ngaku’ sebagai pacar Indah, dan tentang aku yang di kompori oleh Iqbal untuk balas dendam, dan kemarin saat aku memukuli Aldo.
Ayah : “hahahahah”
Ayah : “anak anda mengaku-ngaku jadi pacar seorang perempuan hahaha”
Pak Pol : “...”
Aku : “pah udah pah malu, ga keren, stay cool lah”
Ayah : “oh iya maap”
Pak Pol : “bener itu Aldo”
Aldo : “iya yah” jawabnya sambil menunduk
Pak Pol : “kamu bikin ayah malu saja” ujarnya lalu pergi meninggalkan ruangan
Aldo : “...”
Ayah : “lah itu polisi ga sopan gitu ya, main pergi aja”
Aku : “kalo berantem tadi emang berani pah, badanya gede loh”
Ayah : “ya engga lah, kan tadi ayah bilang laki-laki harus punya harga diri, sombong dikit gapalah” (jangan ditiru ya, sombong itu tidak baik)
Ayah : “yaudah, masalah udah selesai kan, Pak Kamdi saya mau undur diri dulu, mau nganterin istri saya belanja”
Pak Kepsek : “oh iya pak silahkan”
Ayah : “kamu kalo berantem sama Iqbal aja jangan sama yang laen” ucap ayah kepadaku
Aku : “iya pah”
Ayah : “Itu yang di pintu yang namanya Indah?” tanya ayah, dan aku langsung menengok ke arah pintu
Aku : “bukan yah itu Clara”
Ayah : “Selera kamu bagus, yaudah papah pulang dulu” lalu pergi meninggalkan ruangan
Aku : “Iya pah ati-ati”
Ku lihat Aldo yang masih menunduk ke arah lantai
Aku : “hahahaha” tawaku dengan suara yang kubuat seperti tawa orang jahat di film-film, lalu pergi meninggalkan ruangan
Komentar
Posting Komentar