dikit dulu, ngantuk gue, lanjut besok
Sampai di belakang sekolah ku lihat sudah ada Agus di sana sambil memakan roti dan sebuah cola, aku dan Iqbal menghampirinya dan dia bilang bahwa dia hanya menonton juga menghentikan jika situasi tidak terkendali karena dia bilang bahwa Aldo biasa nya main keroyokan. Waktu masih menunjukan lima menit sebelum waktu yang di janjikan tetapi Aldo telah datang bersama empat orang temanya.
Quote:
Aldo : “gue kira..”
“Buggghhh” ku pukul wajahnya, Aldo yang tersungkur pun di bantu oleh teman temanya untuk berdiri
Iqbal : “kebanyakan nonton kartun lo, berantem aja bacot dulu”
Aldo : “anjing gue belum si..”
“Bugghhhhh” ku tendang perut nya
Iqbal : “lo kira sepak bola nunggu siap” komentar Iqbal yang tahu apa yang akan di katakan Aldo
\Aku : “...”
Seorang temanya berusaha maju tetapi di lempar Iqbal dengan sebuah batu kecil
Iqbal : “mundur lo, bukan urusan lo ini”
Aldo telah bangun dari tidurnya dan mendekati aku, dia melakukan tendangan yang sangat tinggi, sepertinya rumor yang ku dengar bahwa dia memang berlatih taekwondo dari caranya menendang, tapi mungkin karena tendanganku yang barusan memberikan efek yang cukup untuk membuatnya melambat sehingga aku bisa menghidarinya. Ku layangkan tinju ku tepat pada ulu hati nya yang cukup untuk membuatnya kesakitan, baru akan ku tendang kepalanya, Agus memegang pundakku dan mengisyaratkan untuk segera berhenti.
Agus : “bawa bos lu tuh, percuma juga di lanjutin udah keliatan” kata Agus kepada teman-teman Aldo
Agus : “sekalian bilangin ke bos kalian, kalo ga pernah berantem ga usah sok bikin ribut”
Aldo pun pergi bersama teman-temanya
Aldo : “awas lu baik” katanya sambil menunjuk wajahku lalu pergi
Iqbal : “kalah kalah aja ga usah ngancem!” ejek Iqbal kepadanya
Agus : “satu hal lagi yang musti kalian hadepin”
Iqbal : “Siapa? Elu? Lu juga antek nya dia?”
Agus : “bukan gue, bapak nya Aldo”
Iqbal : “sianjir lapor bokap wkwkwkwk”
Agus : “ya udah gue cabut dulu”
Aku : “sip, suwun”
Aku pun pulang kerumah dengan membonceng Iqbal, sampai di rumah Iqbal langsung balik ke rumahnya karena ada urusan katanya. Di rumah kulihat ayahku telah pulang dan sedang menonton acara berita di salah satu televisi swasta, ku hampiri ayahku dengan bermaksud untuk menceritakan hal yang terjadi tadi. Ku hampiri ayahku dan mencium tanganya
Quote:
Aku : “pah”
Ayah : “ya?”
Aku : “Tadi aku berantem”
Ayah : “biasanya juga berantem kan sama Iqbal”
Aku : “bukan sama Iqbal”
Ayah : “terus?”
Aku : “kakak kelas”
Ayah : “Siapa yang menang?”
Aku : “aku”
Ayah : “terus masalahnya apa?”
Aku : “dia lapor ayahnya”
Ayah : “kamu juga lapor” jawabnya singkat
Aku : “iya juga ya, yaudah deh pah balik kamar dulu”
Ku rebahkan badanku di atas kasur ke sayanganku, kulihat ada sebuah notafikasi SMS dari nomor tak di kenal
Quote:
“habis berantem ya?”
Aku : “ini siapa?”
“your secret admirer”
Aku : “serius lu siapa?”
“penggemar rahasiamu”
Langsung ku tekan tombol telepon pada handphone ku untuk mengetahui suaranya karena mungkin saja aku mengenalnya. Pada percobaan pertama ku telepon di reject, percobaan kedua di reject, dan percobaan ketiga pun di reject dan aku pun berhenti mencoba.
“nyerah ya?”
ku lihat sms itu tetapi ku diamkan saja karena sudah malas menanggapinya, lalu tiba-tiba handphone ku bergetar dan menunjukan nomor tak di kenal itu pertanda panggilan masuk, langsung ku jawab karena aku sangat antusias untuk mengetahui siapa dia
Aku : “halo”
“Hihihihihihihihi...” suara kuntilanak keluar dari ujung sana
Aku : “ANJING!!!” teriakku sambil melempar kan handphone nokia ku itu
Ayah : “Oziii mulutnya!!!!” teriak ayahku dari bawah
Aku : “Iya paahhhh maaaf” ucapku dengan keras
Ku ambil handphone ku itu layarnya mati dan ada sedikit retakan yang terlihat karena aku melemparnya dengan sangat keras. Ku coba menghidupkanya dan alhamdulillah bisa, setelah proses booting dengan logo dua buah tangan yang bersalaman, ada sebuah sms masuk
“wkwkwk ini gue C L A R A, save ya”
Sampai di belakang sekolah ku lihat sudah ada Agus di sana sambil memakan roti dan sebuah cola, aku dan Iqbal menghampirinya dan dia bilang bahwa dia hanya menonton juga menghentikan jika situasi tidak terkendali karena dia bilang bahwa Aldo biasa nya main keroyokan. Waktu masih menunjukan lima menit sebelum waktu yang di janjikan tetapi Aldo telah datang bersama empat orang temanya.
Quote:
Aldo : “gue kira..”
“Buggghhh” ku pukul wajahnya, Aldo yang tersungkur pun di bantu oleh teman temanya untuk berdiri
Iqbal : “kebanyakan nonton kartun lo, berantem aja bacot dulu”
Aldo : “anjing gue belum si..”
“Bugghhhhh” ku tendang perut nya
Iqbal : “lo kira sepak bola nunggu siap” komentar Iqbal yang tahu apa yang akan di katakan Aldo
\Aku : “...”
Seorang temanya berusaha maju tetapi di lempar Iqbal dengan sebuah batu kecil
Iqbal : “mundur lo, bukan urusan lo ini”
Aldo telah bangun dari tidurnya dan mendekati aku, dia melakukan tendangan yang sangat tinggi, sepertinya rumor yang ku dengar bahwa dia memang berlatih taekwondo dari caranya menendang, tapi mungkin karena tendanganku yang barusan memberikan efek yang cukup untuk membuatnya melambat sehingga aku bisa menghidarinya. Ku layangkan tinju ku tepat pada ulu hati nya yang cukup untuk membuatnya kesakitan, baru akan ku tendang kepalanya, Agus memegang pundakku dan mengisyaratkan untuk segera berhenti.
Agus : “bawa bos lu tuh, percuma juga di lanjutin udah keliatan” kata Agus kepada teman-teman Aldo
Agus : “sekalian bilangin ke bos kalian, kalo ga pernah berantem ga usah sok bikin ribut”
Aldo pun pergi bersama teman-temanya
Aldo : “awas lu baik” katanya sambil menunjuk wajahku lalu pergi
Iqbal : “kalah kalah aja ga usah ngancem!” ejek Iqbal kepadanya
Agus : “satu hal lagi yang musti kalian hadepin”
Iqbal : “Siapa? Elu? Lu juga antek nya dia?”
Agus : “bukan gue, bapak nya Aldo”
Iqbal : “sianjir lapor bokap wkwkwkwk”
Agus : “ya udah gue cabut dulu”
Aku : “sip, suwun”
Aku pun pulang kerumah dengan membonceng Iqbal, sampai di rumah Iqbal langsung balik ke rumahnya karena ada urusan katanya. Di rumah kulihat ayahku telah pulang dan sedang menonton acara berita di salah satu televisi swasta, ku hampiri ayahku dengan bermaksud untuk menceritakan hal yang terjadi tadi. Ku hampiri ayahku dan mencium tanganya
Quote:
Aku : “pah”
Ayah : “ya?”
Aku : “Tadi aku berantem”
Ayah : “biasanya juga berantem kan sama Iqbal”
Aku : “bukan sama Iqbal”
Ayah : “terus?”
Aku : “kakak kelas”
Ayah : “Siapa yang menang?”
Aku : “aku”
Ayah : “terus masalahnya apa?”
Aku : “dia lapor ayahnya”
Ayah : “kamu juga lapor” jawabnya singkat
Aku : “iya juga ya, yaudah deh pah balik kamar dulu”
Ku rebahkan badanku di atas kasur ke sayanganku, kulihat ada sebuah notafikasi SMS dari nomor tak di kenal
Quote:
“habis berantem ya?”
Aku : “ini siapa?”
“your secret admirer”
Aku : “serius lu siapa?”
“penggemar rahasiamu”
Langsung ku tekan tombol telepon pada handphone ku untuk mengetahui suaranya karena mungkin saja aku mengenalnya. Pada percobaan pertama ku telepon di reject, percobaan kedua di reject, dan percobaan ketiga pun di reject dan aku pun berhenti mencoba.
“nyerah ya?”
ku lihat sms itu tetapi ku diamkan saja karena sudah malas menanggapinya, lalu tiba-tiba handphone ku bergetar dan menunjukan nomor tak di kenal itu pertanda panggilan masuk, langsung ku jawab karena aku sangat antusias untuk mengetahui siapa dia
Aku : “halo”
“Hihihihihihihihi...” suara kuntilanak keluar dari ujung sana
Aku : “ANJING!!!” teriakku sambil melempar kan handphone nokia ku itu
Ayah : “Oziii mulutnya!!!!” teriak ayahku dari bawah
Aku : “Iya paahhhh maaaf” ucapku dengan keras
Ku ambil handphone ku itu layarnya mati dan ada sedikit retakan yang terlihat karena aku melemparnya dengan sangat keras. Ku coba menghidupkanya dan alhamdulillah bisa, setelah proses booting dengan logo dua buah tangan yang bersalaman, ada sebuah sms masuk
“wkwkwk ini gue C L A R A, save ya”
Komentar
Posting Komentar