Change Of My Life - KaskusSFTH rekomendasi part 16

Keesokan harinya aku telah memasuki sekolah, hari ini guru nya berbeda dan bukan hanya perkenalan tetapi me-review materi pelajaran yang kami dapat saat SMP, dan di cerca pertanyaan oleh guru tersebut, dan yang dapat menjawab akan mendapat tambahan nilai. Selain itu tidak ada hal yang menurutku harus di ceritakan karena ini bukan cerita berisi edukasi. Clara tidak masih tidak masuk kesekolah karena malas, dan dia selalu mengirimiku sms, yang jarang aku jawab karena memang sedang pelajaran. Aku aku adalah tipe orang serius saat pelajaran berlangsung karena aku tidak mau belajar di rumah, menurutku hidup ku terlalu singkat hanya untuk belajar pelajaran yang belum tentu akan berguna untuk hidupku, aku bukanlah orang yang di sekolah belajar dan di rumah masih akan belajar lagi, di rumah adalah waktu untuk bersantai, istilah ‘Home Sweet Home’ sangat berlaku untukku, ‘there is no school act at home’, mengerjakan ‘PR’ pun aku di sekolah karena sekolah adalah rumah kedua bagi seorang siswa.


Hari-hari berikutnya Clara telah masuk kesekolah, selama di sekolah di mana ada aku disana pasti ada Clara juga, dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi, walau tidak ikut ke toilet juga, yang jelas dia selalu mengikuti ku. Dan hal ini membuatku sedikit terganggu karena kami berdua menjadi objek pandang siswa lain bukan hanya angkatanku saja. Dan banyak mata laki-laki yang melihat ke arahku dengan pandangan tidak enak. Sebuah rutinitas baru untukku saat itu adalah mengantar Clara kembali ke rumahnya dan bermain PS dengan nya sambil menunggu ayahnya pulang ke rumah.


Beberapa kali aku berpapasan dengan indah, dan aku menyapanya tetapi dia hanya tersenyum kepadaku lalu pergi dan selalu seperti tapi aku tidak memikirkan hal itu, mungkin karena dia memang sibuk atau mungkin karena ada Clara yang mengekor di belakangku.


Yang lebih mengusikku adalah aku yang biasanya fokus di dalam mendengarkan pelajaran, sekarang harus bersusah payah karena sifat Clara yang tidak bisa diam baik di kelas maupun di luar kelas, dia selalu mengajakku berbicara saat jam pelajaran dan selalu mencubit atau menggelitiki saat aku mengabaikanya yang berbuah amarah guru karena suara kami membuat gaduh di kelas. Hal tersebut membuatku harus belajar saat mendekati ulangan, sangat membuang waktu ku yang berharga hanya untuk membaca buku. Seperti kejadian yang terjadi padaku di suatu hari di tahun masehi.


Saat itu hari apa entah aku lupa, yang jelas mata pelajaran saat itu adalah PPKn, yang terkenal dengan guru yang sangat galak (sebut saja PaGu yang singkatan dari pak guru). Aku sedang memperhatikan beliau yang menjelaskan tentang tata pemerintahan negara, Clara dengan rasa bosan yang memuncak selalu mengajakku berbicara, tetapi aku acuhkan karena ‘title’ guru tersebut yang memang terkenal sangat galak sehingga aku malas untuk terkena masalah. Mungkin karena sudah sangat kesal aku acuhkan Clara menusukku dengan jarum pentul, ya jarum pentul, kalau saja sistem point pelanggaran saat itu memang benar-benar ditegakkan mungkin clara sudah terkena 50 point, 25 poin untuk membawa senjata tajam dan 25 poin untuk percobaan pembunuhan. Aku pun berteriak karena dia mencancapkan senjata tajamnya tepat pada pahaku dan menembus celana abu-abu ku itu. Si PaGu yang sedang menjelaskan materi pelajaran pun sontak melihat kearahku dengan tatapan layaknya seekor singan yang telah menemukan mangsanya.


Quote:

PaGu : “Siapa Nama Kamu”

Aku : “Jason Pak” cobaku untuk bercanda, siapa tahu guru tersebut bisa melunak karena tertawa, tetapi malah sebaliknya bukan melunak tetapi mengeras

PaGu : “Saya tidak bercanda”

Aku : “Fauzi pak”

PaGu : “Kamu Keluar Sekarang, hormat di depan bendera sampai istirahat kedua”

Aku : “tapi pak...”

PaGu : “CEPAT!!!”



Seringai penuh kepuasan terpancar dari wajah Clara menyisakan kepedihan dan rasa sakit padaku. Dengan langkah gontai aku keluar kelas menuju kedepan tiang bendera, terbesit niat untuk pergi ke kantin saat itu namun naas nya guru tersebut selalu melihatku dari arah kelas. Satu pelajaran yang aku petik dari hal itu ‘jangan pernah mengacuhkan seorang Clara, karena dia lebih sadis dari kelihatanya’ dan juga ‘jangan lihat seorang wanita dari covernya’. Aku pun berakhir dengan kulit kusam dan berminyak karena terbakar sinar matahari yang tidak pagi dan tidak siang itu, jam istirahat kedua sampai pulang sekolah pun aku habiskan di ruang UKS karena rasa pusing yang ku derita, aku memang tidak tahan dengan sinar matahari, tapi tenang saja walaupun aku terbilang ganteng dan berkulit putih aku bukanlah seekor vampir seperti sinetron yang sembat terkenal beberapa waktu lalu (bini gue sering nonton).


Aku dan Clara memang menjadi sangat dekat, tapi aku tidak merasakan feel apapun tentang dia atau mungkin belum atau bahkan aku tidak menyadari perasaan tersebut . Clara kadang berubah menjadi manja terhadapku walau kebanyakan kalau ada maunya, kadang juga menjadi mode berseker yang siap menghujani ku segala macam kelakuanya kalau menjahilinya. Kedekatan ku ini kadang membuat Iqbal kesal karena tiap dia pergi kerumah ku aku jarang ada di rumah karena di tahan oleh Clara di rumahnya.


Jum’at terakhir pada bulan itu Clara mengajakku ke rumahnya tetapi aku tolak karena memang ada acara rutin keluargaku untuk pergi ke panti asuhan, dia pun ingin untuk ikut ke panti asuhan awalnya kutolak tetapi akhirnya aku pun mengiyakanya setelah beragam ancaman di lontarkanya padaku. Saat itu keluargaku sudah siap untuk berangkat, aku izin ayahku untuk menjemput Clara.


Quote:

Aku : “Pah aku nyusul ya”

Ayah : “Mau kemana?”

Aku : “Clara mau ikut”

Ayah : “yaudah, sekalian beli martabak”

Aku : “telor apa manis pah?”

Ayah : “beli semua, yang banyak buat anak panti, kamu pake mobil mamah aja jangan pake motor”

Aku : “siap pah”



Setelah izin dan cium tangan ayah dan ibuku aku langsung menuju ke rumah Clara. Setelah sampai di rumah Clara ternyata dia belum siap, kurang lebih setengah jam aku menunggunya hanya untuk berganti baju. Setelah siap dia keluar menggunakan kaos putih dibalut dengan cardigan warna biru, celana jeans, dan sepatu konpers pendek, hanya seperti itu dan dia memakan waktu setengah jam. Kami pun menuju ke panti asuhan tak lupa untuk membeli martabak. Butuh waktu empat puluh lima menit untuk menuju kesana karena memang panti asuhan yang kami tuju bukan panti asuhan yang besar dan bagus di tengah kota, melainkan panti asuhan yang terletak di pinggiran kota atau bahkan udah masuk luar kota.


Sampai di sana, saat aku keluar dari mobil seorang anak kecil langsung memeluk kakiku, anak kecil perempuan berumur 4-5 tahun ini bernama Salsa.


Quote:

Salsa : “ka oziii”

Aku : “eh salsa” kataku, sambil terus menggendongnya lalu mencium nya

Salsa : “ka ozi, kemalen ga dateng”

Aku : “iya maaf, ka ozi nya sekolah”

Aku : “salsa main dulu ya sama saudara salsa yang lain” ucapku, lalu menurun kanya

Dia lalu berlari ke arah saudara-saudanya yang sedang asik mengobrol dengan ayahku dan pengurus panti asuhan itu, cara lari yang lucu selayaknya anak umur 4-5 tahun.

Clara : “lo deket ya sama mereka”

Aku : “ya, gue sering kesini soalnya, kalo banyak pikiran kalo ga iseng ke sawah ya ke panti ini”

Clara : “kurang kerjaan banget main ke sawah, sendirian?”

Aku : “enak di sawah adem, tenang gitu rasanya, tapi seringan ke sini”

Aku : “gue suka liat senyum mereka, lo tau kan gue anak tunggal, gue punya saudara sepupu tapi tapi kan jarang ketemu karna beda kota, jadi Iqbal sama mereka yang gue anggep saudara”

Clara : “oh, bokap lo juga tuh deket banget sama mereka, sampe di peluk banyak anak kecil gitu”

Aku : “iyalah dia bokap mereka”

Clara : “maksud lo?”

Aku : “Selain pengurus panti, bokap gue udah di anggep orang tua mereka, terlebih lagi bokap gue perlakuin mereka kaya anak sendiri”

Aku : “tiap pulang kerja aja bokap gue ga langsung ke rumah, tapi sempetin ke sini dulu padahal bokap gue pulangnya Cuma sebulan sekali selama seminggu, seminggu itu pun bokap gue selalu kesini”

Clara : “hmm..” katanya sambil ngangguk-ngangguk



Kita pun membagikan martabak yang kita bawa, mereka memakanya dengan sangat lahap wajah keceriaan terukir di wajah mereka, sebuah senyuman yang ku harap akan selalu ada di wajah mereka, mereka mengajarkan padaku bahwa bahagia itu sederhana selain meminta telolet di antara supir bus yang lewat di pinggir jalan. Kadang Clara juga bercanda dengan mereka, dia langsung akrab dengan anak panti, terlebih lagi banyak anak perempuan yang curhat denganya, padahal mereka agak tertutup dengan ku, satu lagi yang aku lihat dari nya ternyata dia memiliki sifat penyayang dengan caranya memperlakukan anak-anak itu, dan secara tak sadar aku memperhatikanya begitu lama. Clara yang menyadari bahwa aku memperhetinya langsung menoleh ke arahku dan tersenyum ke arahku. Tiba-tiba seorang anak bernama tejo yang berumur 10 tahun itu menepuk bahuku.


Quote:

Tejo : “ya elah bang liatinya biasa aja, kaya ga pernah liat yang bening aja” katanya sok keren, tanpa melihat ke arahku

“anjir ni bocah” pikirku

Komentar