Quote:
Tejo : “ya elah bang liatinya biasa aja, kaya ga pernah liat yang bening aja” katanya sok keren, tanpa melihat ke arahku
Aku : “eh lu bocah, kaya tau yang bening aja” kata gue sambil ku obrak-abrik rambutnya
Tejo : “tau lah bang, di sekolah banyak” katanya dengan nada sombong
Aku : “aih, dapet satu kaga lu?”
Tejo : “ga nyari bang”
Aku : “kenapa emang?”
Tejo : “biar mereka yang nyari gue”
Aku : “kampret, sok banget lu, kaya ganteng aja, item gitu”
Tejo : “item-item gini kan manis bang”
Aku : “idih jijik gue, sono mandi lu”
Tejo : “eh bang, beliin lulur donk, biar agak putihan dikit”
Aku : “iya udeh, besok-besok kalo kesini gue bawain lulur”
Tejo : “bener ye bang, yaudah gue mandi dulu”
Aku : “yo”
Aku pun kembali memanddang arah tadi, tapi Clara sudah tidak ada pada tempatnya, entah kenapa aku seperti ingin melihatnya lagi, kemudian memori tentang hal buruk yang dilakukan Clara padaku terputar di dalam kepalaku, ah aku memikirkan orang yang salah. Masih sibuk dengan lamunanku seseorang mengaget kan ku.
Quote:
“BAAAAAAAAA”
Aku : “astaghfirullah”
Clara : “ngelamun mulu, mikir jorok ya”
Aku : “lu kali mikir jorok”
Clara : “kalo gitu, mikirin gue pasti”
Aku : “iya”
Clara : “eh.”
Clara : “beneran?”
Aku : “yup, what’s wrong?”
Clara : “jujur amat, biasanya orang kan malu-malu”
Aku : “iya ya?”
Clara : “ga tau juga sih hehe, lo mikirin gue lagi ngapain?”
Aku : “nyemplung got”
Clara : “eh kampret” sambil mencuubit pinggangku
Aku : “eh sakit, kebiasaan lu nyakitin gue mulu”
Clara : “bodo amat”
Salsa berlari mendekati kami dan langsung duduk ke pangkuan Clara sambil membawa martabak di kedua tanganya yang mungil itu
Salsa : “kak elusin kaya tadi” katanya ke Clara
Clara langsung mengelus kepalanya tersebut, mungkin bukan mengelus lebih tepatnya menyisir rambutnya menggunakan tanganya, kulihat wajahnya dari samping ada hal yang selama ini tidak aku sadari
Aku : “cantik” ucapku pelan
Clara : “HAH??? APA???” ucapnya kaget dan langsung menengok padaku
Aku : “Hah? Apa?”
Clara : “lu tadi bilang apa?”
Aku : “enggak”
Clara : “gue denger kali”
Aku : “udah denger ngapain tanya”
Clara : “gue pengen denger lagi”
Aku : “hufffttt”
Aku : “Salsa cantik ya” ucapku bohong
Clara : “tadi kayaknya ga gitu”
Aku : “perasaan lu doank kali”
Clara : “engga, engga, gue ga mungkin salah”
Aku : “lah yang ngomong gue, kenapa lu yang protes”
Clara : “isshhh..”
Clara : “Salsa, pergi aja yuk, ka Ozi nya nyebelin”
Clara pun menggandeng Salsa pergi menjauh dariku
Aku : “Idih ngambek”
Clara : “BODO!! Weeekkkkk” teriaknya sambil menjulurkan lidah ke arahku
Aku : “hihihi”
Seharian aku selalu bersama Clara, tapi ada hal yang tidak aku sadari dia cantik tidak bahkan sangat cantik, ah mungkin aku mulai sedikit tertarik pada Clara atau mungkin juga tidak atau belum. Hari sudah memudarkan cahayanya pertanda malam telah tiba, kami pun bersiap untuk pulang ke rumah. Aku pun mengajak Clara untuk mengantarkanya pulang, tetapi ayahku malah berniat untuk mengantarkanya.
Quote:
Aku : “ayo gue balikin lo ke kandang”
Clara : “lo kira gue apaan di kandang in”
Aku : “ular berkaki seribu”
Clara : “ular ga ada kakinya pea”
Aku : “iya ya?”
Ayah : “zi”
Aku : “iya pah?”
Ayah : “biar papah sama mamah yang anter Clara pulang”
Aku : “beneran pah?”
Ayah : “iya, kamu pulang duluan aja”
Aku : “Alhamdulillah”
Ibu : “ko Alhamdulillah sih?”
Aku : “mensyukuri nikmat tuhan mah”
Ibu : “ada-ada aja kamu”
Aku : “yaudah mah pah Ozi pulang duluan ya”
Aku pun mencium tangan Ayah dan Ibu ku, lalu Clara juga memberikan tanganya
Aku : “apaan?”
Clara : “kali aja di cium juga”
Aku : “ngarep banget ya?”
Clara : “ga juga sih”
Aku bikin berantakan rambutnya lalu masuk ke dalam mobil milik Ibu ku
Clara : “Ishh..”
Aku pun pulang kerumah, karena perutku agak lapar aku meminggirkan mobilku untuk mencari makanan, kebetulan aku lewat jalan di kota yang banyak pedagang dengan tenda-tenda makanan di pinggir jalan. Aku mampir di salah satu warung tenda di sana untuk makan bebek goreng, setelah kenyang akupun memesan satu bebek untuk di bawa pulang, mungkin Ayah dan Ibuku juga lapar, setelah membayar akupun langsung bergegas pulang. Di rumah mobil sedan ayah sudah ada di rumah yang menandakan bahwa mereka telah pulang juga. Aku pun melangkahkan kaki ku ke dalam rumah, di ruang tamu.
Quote:
Aku : “Assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh”
“walaikumsallam warakhmatullahi wabarakatuh”
Aku : “Elo?” ucapku melihat seseorang yang ada di ruang tamu bersama kedua orangtuaku
Aku : “ngapain lo di sini?”
Tejo : “ya elah bang liatinya biasa aja, kaya ga pernah liat yang bening aja” katanya sok keren, tanpa melihat ke arahku
Aku : “eh lu bocah, kaya tau yang bening aja” kata gue sambil ku obrak-abrik rambutnya
Tejo : “tau lah bang, di sekolah banyak” katanya dengan nada sombong
Aku : “aih, dapet satu kaga lu?”
Tejo : “ga nyari bang”
Aku : “kenapa emang?”
Tejo : “biar mereka yang nyari gue”
Aku : “kampret, sok banget lu, kaya ganteng aja, item gitu”
Tejo : “item-item gini kan manis bang”
Aku : “idih jijik gue, sono mandi lu”
Tejo : “eh bang, beliin lulur donk, biar agak putihan dikit”
Aku : “iya udeh, besok-besok kalo kesini gue bawain lulur”
Tejo : “bener ye bang, yaudah gue mandi dulu”
Aku : “yo”
Aku pun kembali memanddang arah tadi, tapi Clara sudah tidak ada pada tempatnya, entah kenapa aku seperti ingin melihatnya lagi, kemudian memori tentang hal buruk yang dilakukan Clara padaku terputar di dalam kepalaku, ah aku memikirkan orang yang salah. Masih sibuk dengan lamunanku seseorang mengaget kan ku.
Quote:
“BAAAAAAAAA”
Aku : “astaghfirullah”
Clara : “ngelamun mulu, mikir jorok ya”
Aku : “lu kali mikir jorok”
Clara : “kalo gitu, mikirin gue pasti”
Aku : “iya”
Clara : “eh.”
Clara : “beneran?”
Aku : “yup, what’s wrong?”
Clara : “jujur amat, biasanya orang kan malu-malu”
Aku : “iya ya?”
Clara : “ga tau juga sih hehe, lo mikirin gue lagi ngapain?”
Aku : “nyemplung got”
Clara : “eh kampret” sambil mencuubit pinggangku
Aku : “eh sakit, kebiasaan lu nyakitin gue mulu”
Clara : “bodo amat”
Salsa berlari mendekati kami dan langsung duduk ke pangkuan Clara sambil membawa martabak di kedua tanganya yang mungil itu
Salsa : “kak elusin kaya tadi” katanya ke Clara
Clara langsung mengelus kepalanya tersebut, mungkin bukan mengelus lebih tepatnya menyisir rambutnya menggunakan tanganya, kulihat wajahnya dari samping ada hal yang selama ini tidak aku sadari
Aku : “cantik” ucapku pelan
Clara : “HAH??? APA???” ucapnya kaget dan langsung menengok padaku
Aku : “Hah? Apa?”
Clara : “lu tadi bilang apa?”
Aku : “enggak”
Clara : “gue denger kali”
Aku : “udah denger ngapain tanya”
Clara : “gue pengen denger lagi”
Aku : “hufffttt”
Aku : “Salsa cantik ya” ucapku bohong
Clara : “tadi kayaknya ga gitu”
Aku : “perasaan lu doank kali”
Clara : “engga, engga, gue ga mungkin salah”
Aku : “lah yang ngomong gue, kenapa lu yang protes”
Clara : “isshhh..”
Clara : “Salsa, pergi aja yuk, ka Ozi nya nyebelin”
Clara pun menggandeng Salsa pergi menjauh dariku
Aku : “Idih ngambek”
Clara : “BODO!! Weeekkkkk” teriaknya sambil menjulurkan lidah ke arahku
Aku : “hihihi”
Seharian aku selalu bersama Clara, tapi ada hal yang tidak aku sadari dia cantik tidak bahkan sangat cantik, ah mungkin aku mulai sedikit tertarik pada Clara atau mungkin juga tidak atau belum. Hari sudah memudarkan cahayanya pertanda malam telah tiba, kami pun bersiap untuk pulang ke rumah. Aku pun mengajak Clara untuk mengantarkanya pulang, tetapi ayahku malah berniat untuk mengantarkanya.
Quote:
Aku : “ayo gue balikin lo ke kandang”
Clara : “lo kira gue apaan di kandang in”
Aku : “ular berkaki seribu”
Clara : “ular ga ada kakinya pea”
Aku : “iya ya?”
Ayah : “zi”
Aku : “iya pah?”
Ayah : “biar papah sama mamah yang anter Clara pulang”
Aku : “beneran pah?”
Ayah : “iya, kamu pulang duluan aja”
Aku : “Alhamdulillah”
Ibu : “ko Alhamdulillah sih?”
Aku : “mensyukuri nikmat tuhan mah”
Ibu : “ada-ada aja kamu”
Aku : “yaudah mah pah Ozi pulang duluan ya”
Aku pun mencium tangan Ayah dan Ibu ku, lalu Clara juga memberikan tanganya
Aku : “apaan?”
Clara : “kali aja di cium juga”
Aku : “ngarep banget ya?”
Clara : “ga juga sih”
Aku bikin berantakan rambutnya lalu masuk ke dalam mobil milik Ibu ku
Clara : “Ishh..”
Aku pun pulang kerumah, karena perutku agak lapar aku meminggirkan mobilku untuk mencari makanan, kebetulan aku lewat jalan di kota yang banyak pedagang dengan tenda-tenda makanan di pinggir jalan. Aku mampir di salah satu warung tenda di sana untuk makan bebek goreng, setelah kenyang akupun memesan satu bebek untuk di bawa pulang, mungkin Ayah dan Ibuku juga lapar, setelah membayar akupun langsung bergegas pulang. Di rumah mobil sedan ayah sudah ada di rumah yang menandakan bahwa mereka telah pulang juga. Aku pun melangkahkan kaki ku ke dalam rumah, di ruang tamu.
Quote:
Aku : “Assalamualaikum warakhmatullahi wabarakatuh”
“walaikumsallam warakhmatullahi wabarakatuh”
Aku : “Elo?” ucapku melihat seseorang yang ada di ruang tamu bersama kedua orangtuaku
Aku : “ngapain lo di sini?”
Komentar
Posting Komentar